Panti Patmos Lamandau, Ajarkan Menghargai Kehidupan, Tolak Uang Banyak demi Kemanusiaan

Liputan Khas Ramadan 1446 Hijriah (15)

Panti sosial patmos
MISI KEMANUSIAAN: Suasana aktivitas anak-anak Panti Patmos Lamandau, baru-baru ini. RIA MEKAR ANGGREANY/RADAR SAMPIT

”Anak asuh kami yang normal ada empat, kemudian ada 16 anak berkebutuhan khusus. Ada yang kita urus sejak bayi. Tapi, sekarang usia mereka sudah antara 7 sampai 23 tahun,” ujarnya.

Untuk mengisi kegiatan, sebagai bentuk terapi dan menambah pemasukan panti anak-anak diajari membuat bros, gelang tangan, ikat rambut dari kain perca yang didapat secara gratis dari penjahit. Mereka juga diajak berkebun, sehingga meskipun memiliki kekurangan tapi bisa diajak mencangkul, mencabut rumput dan menyiram tanaman.

Bacaan Lainnya

”Bahkan, ada yang datang ke sini awalnya tidak bisa apa-apa, sekarang sudah bisa mencuci, dan mengerjakan beberapa aktivitas,” katanya.

Untuk kebutuhan makan, menurutnya, sebagian besar berasal dari sumbangan masyarakat. Sebelumnya, juga ada sedikit bantuan operasional dari dinas sosial.

”Tapi, sejak pergantian pemerintahan, tahun 2024 tidak dapat bantuan lagi dari pemda. Bahkan, tahun lalu sekitar bulan November kami sampai sempat kehabisan beras, ” katanya.

Baca Juga :  Tiga Hari Hilang, Kakek di Lamandau Ditemukan Lemas di Hutan

Di panti yang dihuni berbagai kepercayaan ini, selama Ramadan semua penghuni panti ikut puasa. Pasalnya, jika ada satu orang yang makan, yang lain juga akan ikut makan.

”Dengan semua ikut berpuasa, saya harap mereka bisa belajar prihatin dan menahan diri,” katanya.

Selama bulan puasa, setiap masak nasi mereka akan menyisihkan berasnya satu genggam untuk disimpan di tempat khusus. ”Beras tersebut kami kumpulkan selama masa puasa. Kami niatkan untuk diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan usai puasa nanti,” ucapnya.

Dia berharap setelah pemimpin baru dilantik nantinya, panti Patmos bisa lebih diperhatikan. Apalagi ini satu-satunya panti rehabilitasi untuk anak berkebutuhan khusus di Kalteng. Bahkan, ada yang berasal dari luar kota, seperti Sampit yang diantar ke panti tersebut.

”Guru-guru dan yang kerja di sini tidak ada yang digaji, semua  sosial kemanusiaan. Yang penting ikut makan minum di sini. Kadang kalau ada kelebihan sembako kita beri. Anak yang tinggal di sini juga gratis semua tidak ada yang bayar. Sehingga ke depan harapannya pemda bisa membantu operasional dan honor bagi para guru pengajar dan pengasuh di sini,” harapnya.



Pos terkait