”Kami juga menemukan adanya tekanan pihak luar selama pemilu dan itu dianggap mengganggu,” ujarnya. Bentuk tekanannya adalah ajakan, seruan, paksaan, bahkan kiriman materi media social. Pelakunya paling banyak berasal dari keluarga. Ini juga menyebabkan depresi dan cemas.
Rey menyimpulkan, adanya hubungan erat dan signifikan antara pemilu 2024 dengan tingkat kecemasan dan depresi orang Indonesia. Sebab pemilu 2024 menciptakan konflik diri, konflik dengan pihak lain atau eksternal, dan tekanan untuk membuat pilihan politik. Sehingga berisiko dua kali lebih besar mengalami kecemasan.
”Studi ini juga menunjukkan bahwa persepsi konflik internal dan konflik eksternal yang terjadi akibat partisipasi dalam proses pemilu 2024 mengakibatkan depresi sedang-berat pada 25 persen sampai 31 persen orang Indonesia. Selain itu juga meningkatkan risiko depresi hingga 2,5 kali lipat,” ucapnya.
Inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa Nila F Moeloek mengungkapkan temuan ini menunjukkan bahwa perlu ada intervensi dan mitigasi khusus di masyarakat. Tujuannya adalah mencegah supaya kecemasan dan depresi tidak memberat.
”Karena kita ketahui kecemasan dan depresi ini adalah pintu masuk untuk gangguan jiwa serius bahkan bisa fatal, jadi dicegah,” ungkap Menteri Kesehatan 2014-2019 ini. (lyn/jpg)